DILI, 8 agustus 2021 (TATOLI)—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Departemen penyakit menular seksual (Portugis: Departemento Doencas Sexualmente Transmissiveis-DDST) mencatat dalam trimester ditemukan 96 kasus Penyakit Menular Seksual (PMS) di Timor Leste (TL).
Penanggungjawab penanganan masalah HIV/AIDS pada Kemenkes, Bernardo da Cruz mengatakan hal itu kepada Tatoli di Lahane, Dili, kamis.
Dia menjelaskan bahwa selama masa pandemi global Covid-19, terjadi penurunan deteksi kasus HIV/AIDS karena semua berfokus pada penanganan dan pencegahan penyebaran virus corona.
“Tahun lalu kita deteksi 200 lebih kasus, dan untuk tahun ini dalam trimester ditemukan 96 kasus baru HIV/AIDS. Hal ini disebabkan selama masa pandemi, masyarakat tidak melakukan kontrol pada pusat-pusat kesehatan terdekat,” ujarnya.
Menurutnya, selain ditemukan 96 kasus baru, diperkirakan masih banyak lagi kasus yang belum terdeteksi karena pasien positif HIV/AIDS berbaur dengan masyarakat selama masa pendemi covid-19.
Disebutkan, dari tahun 2003 hingga saat ini tercatat 1.408 kasus dan 157 (11%) pasien meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit. Dari jumlah pasien yang meninggal dunia, 70 di antaranya di rumah karena tidak melanjutkan perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, sekitar 684 pasien yang melakukan perawatan di rumah sakit, 34 di antaranya dirujuk ke rumah sakit luar negeri.
Untuk mengatasi masalah PMS di TL, Kemenkes terus berupaya dengan melakukan kampanye program pencegahan HIV/AIDS, melakukan deteksi pada pasien, melakukan perawatan dan memberikan informasi tentang PMS kepada masyarakat. Selain itu, Kemenkes juga terus berupaya melakukan pencegahan diskriminasi masyarakat terhadap pasien positif HIV/AIDS.
“Kampanye program pencegahan sangat penting dilakukan melalui pelatihan kepada masyarakat agar mereka bisa mengetahui bahwa AIDS sebenarnya bukanlah suatu penyakit, namun akumulasi dari suatu tanda karena berkuranngya imun tubuh, sehingga perlu melakukan pencegahan terhadap virus, bukan pencegahan pada orang yang menderita HIV/AIDS”. tuturnya.
Dikatakan, untuk melakukan program pencegahan terhadap masalah tersebut, pemerintah mengalokasikan dana senilai $3 juta lebih dan dukungan fasilitas dari organisasi kesehatan dunia (WHO) dan lain lain.
Reporter : Mirandolina Barros Soares
Editor : Armandina Moniz









